PUISI PUISI PERJUANGAN DAN KE PAHLAWANAN MENYAMBUT HUT KE 70 KEMERDEKAAN RI

Puisi adalah salah satu cara maupun sarana untuk menyampaikan isi hati /perasaan seseorang. Syair syair dalam puisi bisa berisi kesedihan, ketidak berdayaan, kegembiraan, cinta, harapan, nasehat, kritikan terhadap penguasa ataupun sindiran terhadap masyarakat sekalipun.

Berbagai peristiwa kehidupan bangsa Indonesia ataupun Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dicatat oleh masyarakat dan menuliskannya dalam bentuk puisi. Telah tercatat dalam sejarah lahirnya banyak penyair mengiringi peristiwa perjuangan kemerdekaan RI, perjuangan melawan ketidak adilan penguasa, untuk mengenang para pahlawan atau untuk menyampaikan kegalauan perasaan isi hati.

Berikut ini adalah puisi puisi kemerdekaan, perjuangan, dan kepahlawanan  karya Chairil Anwar, Taufik Ismail, WS Rendra, Sapardi Joko Darmono, Wiji Thukul dll yang lahir dari isi hati dalam memahami sebuah peristiwa berbangsa dan bernegara untuk mengenang para pahlawan kemerdekaan dan untuk meyuarakan kembali isi hati dan perasaan para penyair:

AKU
Karya: Chairil Anwar

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu-sedan itu
Aku ini binatang jalan
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi
(Pembangoenan, No. 1, Th. I 10 Desember 1945)

******

DIPONEGORO
Karya: Chairil Anwar

Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali

Dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.

Maju

Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.

Sekali berarti
Sudah itu mati.

Maju

Bagimu Negeri
Menyediakan api.

Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai

Maju
Serbu
Serang
Terjang
(1943)(Budaya, Th III, No. 8. Agustus 1954)

******

KRAWANG - BEKASI
Karya: Chairil Anwar

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.

Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi
(1948) (Brawidjaja, Jilid 7, No 16, 1957)

******

PRAJURIT JAGA MALAM
Karya : Chairil Anwar

Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras, bermata tajam
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya kepastian

ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini
Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu......
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu !
(1948) (Siasat, Th III, No. 96. 1949)

******

PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO

Karya: Chairil Anwar

Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu
dipanggang diatas apimu, digarami lautmu

Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut

Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh
(1948) (Liberty, Jilid 7, No 297, 1954)

******

LARUT MALAM SUARA SEBUAH TRUK
Karya: Taufiq Ismail

Sebuah Lasykar truk
Masuk kota Salatiga
Mereka menyanyikan lagu
'Sudah Bebas Negeri Kita'
Di jalan Tuntang seorang anak kecil
Empat tahun terjaga :
'Ibu, akan pulangkah Bapa,
dan membawakan pestol buat saya ?'

******

KITA ADALAH PEMILIK SAH REPUBLIK INI
Karya: Taufik Ismail

Tidak ada pilihan lain
Kita harus
Berjalan terus
Karena berhenti atau mundur
Berarti hancur
Apakah akan kita jual keyakinan kita
Dalam pengabdian tanpa harga
Akan maukah kita duduk satu meja
Dengan para pembunuh tahun yang lalu
Dalam setiap kalimat yang berakhiran
“Duli Tuanku ?”

Tidak ada lagi pilihan lain
Kita harus
Berjalan terus
Kita adalah manusia bermata sayu, yang di tepi jalan
Mengacungkan tangan untuk oplet dan bus yang penuh
Kita adalah berpuluh juta yang bertahun hidup sengsara
Dipukul banjir, gunung api, kutuk dan hama
Dan bertanya-tanya inikah yang namanya merdeka
Kita yang tidak punya kepentingan dengan seribu slogan
Dan seribu pengeras suara yang hampa suara
Tidak ada lagi pilihan lain
Kita harus
Berjalan terus.
(1966)

******

GERILYA
Karya: W S Rendra

Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki berguling di jalan

Angin tergantung
terkecap pahitnya tembakau
bendungan keluh dan bencana

Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki berguling dijalan

Dengan tujuh lubang pelor
diketuk gerbang langit
dan menyala mentari muda
melepas kesumatnya

Gadis berjalan di subuh merah
dengan sayur-mayur di punggung
melihatnya pertama

Ia beri jeritan manis
dan duka daun wortel

Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki berguling dijalan

Orang-orang kampung mengenalnya
anak janda berambut ombak
ditimba air bergantang-gantang
disiram atas tubuhnya

Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki berguling dijalan

Lewat gardu Belanda dengan berani
berlindung warna malam
sendiri masuk kota
ingin ikut ngubur ibunya

******

DOA SEORANG SERDADU SEBELUM PERANG
Karya: W.S. Rendra

Tuhanku,
WajahMu membayang di kota terbakar
dan firmanMu terguris di atas ribuan
kuburan yang dangkal

Anak menangis kehilangan bapa
Tanah sepi kehilangan lelakinya
Bukannya benih yang disebar di bumi subur ini
tapi bangkai dan wajah mati yang sia-sia

Apabila malam turun nanti
sempurnalah sudah warna dosa
dan mesiu kembali lagi bicara
Waktu itu, Tuhanku,
perkenankan aku membunuh
perkenankan aku menusukkan sangkurku

Malam dan wajahku
adalah satu warna
Dosa dan nafasku
adalah satu udara.
Tak ada lagi pilihan
kecuali menyadari
-biarpun bersama penyesalan-

Apa yang bisa diucapkan
oleh bibirku yang terjajah ?
Sementara kulihat kedua lengaMu yang capai
mendekap bumi yang mengkhianatiMu
Tuhanku
Erat-erat kugenggam senapanku
Perkenankan aku membunuh
Perkenankan aku menusukkan sangkurku
(Mimbar Indonesia. Th. XIV, No. 25. 18 Juni 1960)

******

MENATAP MERAH PUTIH
Karya: Sapardi Djoko Damono

Menatap merah putih
melambai dan menari – nari di angkasa

kibarannya telah banyak menelan korban
nyawa dan harta benda

berkibarnya  merah putih
yang menjulang tinggi di angkasa

selalu teriring senandung lagu Indonesia Raya
dan tetesan air mata
dulu, ketika masa perjuangan pergerakan kemerdekaan
untuk mengibarkan merah putih
harus diawali dengan pertumpahan darah
pejuang yang tak pernah merasa lelah
untuk berteriak : Merdeka!

menatap
merah putih adalah perlawanan melawan angkara murka
membinasakan penidas dari negeri tercinta
indonesia

menatap
merah putih adalah bergolaknya darah
demi membela kebenaran dan azasi manusia
menumpas segala penjajahan
di atas bumi pertiwi

menatap
merah putih adalah kebebasan
yang musti dijaga dan dibela
kibarannya di angkasa raya

berkibarlah terus merah putihku
dalam kemenangan dan kedamaian

******

HARI KEMERDEKAAN
Karya: Sapardi Djoko Damono

Akhirnya tak terlawan olehku
tumpah dimataku, dimata sahabat-sahabatku
ke hati kita semua
bendera-bendera dan bendera-bendera
bendera kebangsaanku
aku menyerah kepada kebanggan lembut
tergenggam satu hal dan kukenal

tanah dimana kuberpijak berderak
awan bertebaran saling memburu
angin meniupkan kehangatan bertanah air
semat getir yang menikam berkali
makin samar
mencapai puncak kepecahnya bunga api
pecahnya kehidupan kegirangan

menjelang subuh aku sendiri
jauh dari tumpahan keriangan dilembah
memandangi tepian laut
tetapi aku menggengam yang lebih berharga
dalam kelam kulihat wajah kebangsaanku
makin bercahaya makin bercahaya
dan fajar mulai kemerahan

******
ATAS KEMERDEKAAN
Karya: Sapardi Djoko Damono

kita berkata : jadilah
dan kemerdekaan pun jadilah bagai laut
di atasnya : langit dan badai tak henti-henti
di tepinya cakrawala

terjerat juga akhirnya
kita, kemudian adalah sibuk
mengusut rahasia angka-angka
sebelum Hari  yang ketujuh tiba

sebelum kita ciptakan pula Firdaus
dari segenap mimpi kita
sementara seekor ular melilit pohon itu :
inilah kemerdekaan itu, nikmatkanlah
(Horison Thn III, No. 8 Agustus 1968)

******

SUKMAKU MERDEKA
Karya: Wiji Thukul

Tidak tergantung kepada Departemen Tenaga Kerja
Semakin hari semakin nyata nasib di tanganku
Tidak diubah oleh siapapun
Tidak juga akan dirubah oleh Tuhan Pemilik Surga
Apakah ini menyakitkan? entahlah !
Aku tak menyumpahi rahim ibuku lagi
Sebab pasti malam tidak akan berubah menjadi pagi
Hanya dengan memaki-maki

Waktu yang diisi keluh akan berisi keluh
Waktu yang berkeringat karena kerja akan melahirkan
Serdadu-serdadu kebijaksanaan
Biar perang meletus kapan saja
Itu bukan apa-apa
Masalah nomer satu adalah hari ini
Jangan mati sebelum dimampus takdir

Sebelum malam mengucap selamat malam
Sebelum kubur mengucapkan selamat datang
Aku mengucap kepada hidup yang jelata
M E R D E K A ! !

******

SATU MIMPI SATU BARISAN
Karya: Wiji Thukul

Di lembang ada kawan sofyan
jualan bakso kini karena dipecat perusahaan
karena mogok karena ingin perbaikan
karena upah ya karena upah

Di ciroyom ada kawan sodiyah
si lakinya terbaring di amben kontrakan
buruh pabrik teh
terbaring pucet dihantam tipes
ya dihantam tipes
juga ada neni
kawan bariah
bekas buruh pabrik kaos kaki
kini jadi buruh di perusahaan lagi
dia dipecat ya dia dipecat
kesalahannya : karena menolak
diperlakukan sewenang-wenang

Di cimahi ada kawan udin buruh sablon
kemarin kami datang dia bilang
umpama dironsen pasti nampak
isi dadaku ini pasti rusak
karena amoniak ya amoniak

Di cigugur ada kawan siti
punya cerita harus lembur sampai pagi
pulang lunglai lemes ngantuk letih
membungkuk 24 jam
ya 24 jam

Di majalaya ada kawan eman
buruh pabrik handuk dulu
kini luntang-lantung cari kerjaan
bini hamin tiga bulan
kesalahan : karena tak sudi
terus diperah seperti sapi

Di mana-mana ada sofyan ada sodiyah ada bariyah
tak bisa dibungkam kodim
tak bisa dibungkam popor senapan
di mana-mana ada neni ada udin ada siti
di mana-mana ada eman
di bandung - solo - jakarta - tangerang

Tak bisa dibungkam kodim
tak bisa dibungkam popor senapan
satu mimpi
satu barisan
(Bandung 21 Mei 1992)

******

BUAH KEMERDEKAAN
Karya: Giyono Trisnadi

Jalanan macet di mana mana.. inikah buah Kemerdekaan?
Banyak Ibu ibu dan gadis gadis menjadi TKW.. inikah buah kemerdekaan?  
Banyak pengangguran.. inikah buah kemerdekaan?
Banyak anak durhaka.. inikah buah kemerdekaan?
Demokrasi kebablasan.. inikah buah kemerdekaan?
Banyak pemimpin membesarkan perutnya sendiri.. inikah buah kemerdekaan?

Kenapa buah kemerdekaan berwarna hitam?
Atau ketidak becusan orang orang menyiangi kemerdekaan?
Atau ketidak pedulian pemimpin akan keadilan?
Atau kealpaan pemimpin atas tujuan kemerdekaan?
Atau ego dan kealpaan masyarakat kebanyakan?

Bayangkan bagaimana perasaan para pejuang melihat buah kemerdekaan
Dulu dia mati berdarah darah demi kemerdekaan
Pasti dia menangis dengan air mata berdarah darah karena melihat buah kemerdekaan
(8 Agustus 2015, Peringatan Hari kemerdekaan ke 70 Republik Indonesia)

******

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Holikul Anwar, 2015. “Kumpulan Puisi Kemerdekaan Dan Perjuangan” Holikul Anwar Blog. Website: http://holikulanwar.blogspot.com/2014/08/kumpulan-puisi-kemerdekaan-.html

Diah Noe. 2013. “3 Puisi Taufik Ismail Tentang Perjuangan dan Pengorbanan”. Puisi dan Syair Indonesia, Kumpulan puisi terbaik penyair besar Indonesia paling lengkap. Website: http://puisidansyairindonesia.blogspot.com/2013/09/3-puisi-taufik-ismail-tentang.html

Gyan Pramesty 2015. Kumpulan Puisi Perjuangan Terbaru 2015. Loker Puisi Puisi Online Indonesia.. Website: http://www.lokerpuisi.web.id/2014/06/puisi-perjuangan.html

Ofa ragil Boy, 2015. “Puisi Perjuangan, Kita Adalah Pemilik Sah Republik Ini”. Catatan Si Boy. Catatan Online Ofa Ragil Boy seputar Motivasi Kehidupan, Cerita Cinta Anak Remaja. Website: http://orb.web.id/puisi-perjuangan-kita-adalah-pemilik-sah-republik-ini.html

Sawali Tuhusetya, 2009. “Puisi Perjuangan Chairil Anwar”. Catatan Sawali Tuhusetya. Tentang Budaya Dunia Pendidikan dan Sastra Indonesia. Website: http://sawali.info/2009/05/09/puisi-perjuangan-chairil-anwar/

***Penulis drh Giyono Trisnadi


PENTING UNTUK PETERNAKAN: