RABIES

Rabies adalah penyakit karena infeksi virus yang sangat serius yang menargetkan otak dan sistem saraf. Rabies merupakan penyakit encephalomyelitis yang progresif, akut, terutama menyerang hewan karnivora, kelelawar dan juga mamalia, penyakit sudah fatal ketika gejala klinis terlihat.
Rabies atau penyakit Anjing Gila adalah penyakit zoonosis (penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia), menyerang hewan peliharaan, hewan liar, dan menyebar ke orang melalui kontak dekat dengan material infeksius, biasanya air liur, melalui gigitan atau cakaran. Rabies ada di semua benua kecuali Antartika, namun lebih dari 95% kematian manusia terjadi di Asia dan Afrika. Setelah gejala penyakit berkembang, rabies hampir selalu fatal.

Rabies adalah penyakit yang diabaikan di masyarakat miskin dan dalam populasi yang rentan yang kematian (karena rabies) jarang dilaporkan. Hal ini terjadi terutama di masyarakat pedesaan terpencil di mana langkah-langkah untuk mencegah penularan penyakit anjing ke manusia belum dilaksanakan. Dengan pelaporan rabies juga mencegah mobilisasi sumber penyakit dari masyarakat internasional melalui penghapusan anjing media rabies pada manusia.

Fakta mengenai Rabies menurut WHO 2014: 1. Rabies terjadi di lebih dari 150 negara dan wilayah; 2. Lebih dari 55 000 orang meninggal karena rabies setiap tahun terutama di Asia dan Afrika; 3. 40% dari orang-orang yang digigit oleh hewan rabies tersangka adalah anak-anak di bawah usia 15 tahun; 4. Anjing adalah sumber dari sebagian besar kematian rabies pada manusia; 5. Pembersih luka dan imunisasi dalam beberapa jam setelah kontak dengan hewan tersangka rabies dapat mencegah timbulnya rabies dan kematian; 6. Setiap tahun, lebih dari 15 juta orang di seluruh dunia menerima vaksinasi pasca pajanan untuk mencegah rabies. ini diperkirakan untuk mencegah ratusan ribu kematian karena rabies setiap tahunnya. 

EPIDEMIOLOGI
Kejadian Penyakit
Dengan beberapa pengecualian (terutama pulau-pulau), virus rabies ditemukan di seluruh dunia. Beberapa negara termasuk Inggris, Irlandia, Swedia, Norwegia, Islandia, Jepang, Australia, Selandia Baru, Singapura, sebagian besar Malaysia, Papua Nugini, Kepulauan Pasifik dan beberapa pulau di Indonesia telah bebas dari virus rabies (RABS_H2009 klasik © 2009 CFSPH) selama bertahun-tahun.

Kejadian terakhir penyakit Rabies di dunia menurut oie 2014 adalah: Armenia Januari 2011, Australia 1867, Austria 2003 (hewan peliharaan /terdomestikasi) dan 2002 (hewan liar), Belgia 2008 (peliharaan) dan 1998 (liar), Belize Desember 2012 (peliharaan) dan Februari 2007 (liar), Bulgaria September 21, 2010 (peliharaan) dan Juli 2012 , Republik Ceko 2001 (peliharaan) dan 1 April 2002 (liar), Denmark April 2002 (peliharaan) dan Mei 2009 (liar), Mesir 1990, Estonia Maret 2008 (peliharaan) dan Juni 2011 (liar), Finlandia November 2007 (peliharaan ) dan Agustus 2009 (liar), Prancis Agustus 2011 (peliharaan) dan Agustus 2012 (liar), Guyana Perancis 2003 (peliharaan) dan Oktober 2009 (liar), Jerman Maret 2005 dan Maret 2006, Hong Kong 1987, Hongaria Februari 2010 (peliharaan) dan Desember 2012 (liar), Irlandia 1903, Italia Desember 2010 (peliharaan) dan Juni 2011, Jepang 1956, Kazakhstan 2007, Kuwait 1994, Latvia Juni 2012 (peliharaan) dan November 2010 (liar), Libya Juni 2010, Liechtenstein 1986, Malaysia 1999, Malta 1911, Mauritius 1894, Montenegro Maret 2012 (peliharaan) dan November 2011, Norwegia 18 November 2011, (peliharaan) dan Januari 2012 (liar), Palestina (wilayah Auton) 25 Maret 2010, Portugal 1984 (peliharaan) 1961 (liar), Qatar 2009, Singapura 1953, Swedia 1886 (peliharaan) dan 11 Januari 2010 (liar), Swiss 2003 (peliharaan) dan September 2002 (liar), Uni Emirat Arab 1999, United Kingdom 1970.

Laporan kejadian terakhir penyakit Rabies di Dunia, yang terlihat dari gejala klinis: Chili Januari-Juni tahun 2013, Belanda Juli-Desember 2013 Serbia Januari-Juni 2013 Slovenia Januari-Juni tahun 2013, Afghanistan Januari-Juni 2013 Algeria Juli-Desember 2013 Angola Juli-Desember 2012, Azerbaijan Januari-Juni tahun 2013, Bangladesh Januari-Juni 2013 Belarus Juli-Desember 2012, Benin Januari-Juni tahun 2013, Bhutan Juli-Desember 2013 Bolivia Juli-Desember 2012, Bosnia dan Herzegovina Juli-Desember 2013 Botswana Januari-Juni 2013 Brasil Januari-Juni 2013 Burkina Faso Januari-Juni tahun 2013, Burundi Juli-Desember 2010, Kanada Januari-Juni tahun 2013, Republik Afrika Tengah Januari-Juni tahun 2013, Chad Juli-Desember 2012, Kolombia Januari-Juni 2013, Kongo (Republik Demokratik dari ) Juli-Desember 2013 Kosta Rika Januari-Juni 2013 Cote D' Ivoire Januari-Juni 2013, Kroasia Januari-Juni 2013 Cuba Juli-Desember 2012, Republik Dominika Januari-Juni tahun 2013, Ekuador Januari-Juni tahun 2013, El Salvador Juli-Desember 2012, Eritrea Januari-Juni tahun 2013, Ethiopia Januari-Juni 2013 Bekas Yug. Rep Makedonia Juli-Desember 2013 Gabon Juli-Desember 2011, Georgia Juli-Desember 2013 Ghana Januari-Juni 2013 Grenada Juli-Desember 2010, Guatemala Juli-Desember 2012, Haiti Januari-Juni 2013 Indonesia Januari - Juni 2013, Iran Januari-Juni tahun 2013, Irak Januari-Juni tahun 2013, Israel Januari-Juni tahun 2013, Jordan Juli-Desember 2012, Kenya Juli-Desember 2013 Korea (Rep) Januari - Juni 2013, Laos Juli-Desember 2012, Lesotho Juli-Desember 2013 Madagaskar Juli-Desember 2012, Malawi Juli-Desember 2012, Mauritania Januari-Juni 2013 Moldova Januari-Juni 2013 Mongolia Januari-Juni tahun 2013, Maroko Januari-Juni tahun 2013, Mozambik Juli-Desember 2013 Myanmar Juli - Desember 2012, Namibia Januari-Juni 2013 Nepal Januari-Juni tahun 2013, Nikaragua Januari-Juni tahun 2013, Nigeria Januari-Juni 2013 Oman Juli-Desember 2012, Panama Juli-Desember 2012, Filipina Juli-Desember 2012, Polandia Januari-Juni 2013, Rumania Juli-Desember 2013 Rusia Januari-Juni tahun 2013, Rwanda Juli-Desember 2012, Arab Saudi Januari-Juni 2013 Senegal Januari-Juni tahun 2013, Serbia dan Montenegro Juli - Desember 2006, Sierra Leone Juli-Desember 2013 Somalia Januari - Juni 2012, Afrika Selatan Januari-Juni 2013 Sri Lanka Januari-Juni 2013 Swaziland Juli-Desember 2013 Suriah Januari-Juni 2013 Tajikistan Januari-Juni tahun 2013, Tanzania Juli-Desember 2012, Thailand Januari-Juni 2013 Togo Juli-Desember 2013 Trinidad dan Tobago Januari-Juni tahun 2013, Tunisia Juli-Desember 2013 Turki Januari-Juni 2013 Turkmenistan Juli-Desember 2010, Uganda Juli-Desember 2012, Ukraina Januari-Juni tahun 2013, Amerika Serikat Januari - Des 2011 Yaman Juli - Juni 2013, Uzbekistan Januari - Juni 2008, Venezuela Jul Desember 2012, Zambia Januari-Juni 2013 Zimbabwe Juli-Desember 2012, China (Republik Rakyat) Juli-Desember 2012, Guyana Juli-Desember 2012, Honduras Juli-Desember 2012, India Januari-Juni tahun 2013, Peru Januari-Juni tahun 2013, Vietnam Juli-Desember 2013.

Laporan kejadian terakhir penyakit Rabies di dunia, untuk zona tertentu /wilayah negara: Albania Juli-Desember 2012, Argentina Januari-Juni tahun 2013, Cina Taipei Januari-Juni 2013 Kyrgyzstan Januari - Juni 2013, Lithuania Januari-Juni 2013 Meksiko Januari-Juni tahun 2013, Pakistan Januari - Juni 2013 Paraguay Januari - Juni 2013 Slovakia Januari - Juni 2013 Spanyol Januari - Juni 2013 Sudan Januari - Juni 2013.

Hospes /Inang
Semua mamalia rentan terhadap rabies. Ada banyak strain virus rabies; masing-masing strain dipertahankan dalam inang reservoir tertentu. Inang pertahanan penting termasuk anggota Canidae (anjing, serigala, coyote, serigala, rubah dan anjing rakun), Mustelidae (sigung, Martens, musang dan cerpelai), Viverridae (mongooses dan Meerkat), dan Procyonidae (musang), dan ordo Chiroptera (kelelawar). Kucing yang terdaptasi varian rabies belum terlihat, meskipun kucing sering terinfeksi virus rabies dari hospes lain, dan mereka dapat dengan mudah menularkan virus.

Hospes (inang) reservoir penting bervariasi dengan daerah. Di Amerika Utara, pemeliharaan hospes untuk virus rabies termasuk kelelawar pemakan serangga (insectivorous), sigung bergaris (bau busuk bau amis), musang (Procyon lotor) coyote (Canis latrans) dan berbagai jenis rubah. Rubah merah (Vulpes vulpes), kelelawar pemakan serangga, serigala dan anjing rakun (Nyctereutes procyonoides) tampaknya merupakan hospes penting di Eropa. Varian rabies canine terkontrol dengan baik di Amerika Serikat, Kanada dan Eropa, dan itu mungkin tidak lagi menyebar atau ada hanya pada tingkat rendah di beberapa daerah. Namun, virus ini tampaknya telah menjadi eksis di beberapa populasi satwa liar, seperti rubah abu-abu (Urocyon cinereoargenteus) di Texas dan Arizona, dan itu bisa eksis kembali pada anjing dari hospes reservoir ini.

Rabies (canine) terus menjadi masalah yang signifikan di daerah Afrika, Asia, Timur Tengah, dan Amerika Latin. Hospes satwa liar barangkali ada. Kelelawar pemakan serangga dan kelelawar vampir  (Desmodus rotundus) keduanya adalah inang untuk virus rabies di Meksiko, Amerika Tengah dan Selatan. Kelelawar vampir (Desmodus rotundus) kadang-kadang bertanggung jawab atas wabah pada ternak sapi di Amerika Selatan. Rabies juga telah dilaporkan pada berbagai spesies satwa liar lainnya, termasuk serigala, coyote, sigung, dan rubah, di Amerika Tengah dan Selatan. Rubah merah dan serigala emas (Canis aureus) sering tersangkut di dalam penyakit rabies satwa liar di Timur Tengah. Rubah merah dan rubah arktik, anjing rakun, musang dan serigala hospes untuk virus di beberapa bagian Asia. Musang juga penting di Karibia. Di Afrika, ada bukti bahwa virus tersebut barangkali dipertahankan di dalam hospes serigala, rubah, musang, genets dan spesies lainnya.

Penularan
Virus rabies mudah ditularkan di antara mamalia, apakah mereka spesies yang sama atau berbeda. Virus ini biasanya menyebar dalam air liur, ketika hewan yang terinfeksi menggigit hewan lain. Jarang, hewan atau manusia terinfeksi melalui kontak dengan air liur atau jaringan saraf terinfeksi, melalui selaput lendir atau luka di kulit. Virus rabies tidak menular melalui kulit utuh.

Ada juga kejadian langka penularan melalui rute lainnya. Beberapa kasus telah dilaporkan setelah transplantasi organ, terutama kornea tetapi juga pankreas, ginjal dan hati. Transmisi aerosol telah didokumentasikan dalam keadaan khusus, seperti di laboratorium dan gua-gua kelelawar dengan kepadatan yang sangat tinggi dari aerosol, partikel virus yang viabel. Virus rabies telah ditularkan melalui ingesti pada hewan percobaan yang terinfeksi, dan ada bukti anekdot bahwa penularan melalui susu terhadap domba dan bayi manusia. (Banyak rute konvensional dari penyebaran tidak bisa dikesampingkan dalam kasus terakhir). Ada beberapa spekulasi bahwa ingesti bisa memainkan peran dalam penularan rabies pada hewan liar. Satu epidemi di kalangan kudu mungkin telah menyebar di antara hewan ketika mereka makan di pohon-pohon berduri. Tidak ada catatan dari penyakit manusia yang diperoleh dengan rute ini. Namun demikian, dalam 2 insiden yang telah diselidiki oleh U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDC), orang yang minum susu yang tidak dipasteurisasi dari sapi rabies diberi pencegahan pasca pajanan. Susu pasteurisasi dan daging yang dimasak diharapkan tidak menimbulkan risiko infeksi, seperti virus rabies yang dilemahkan oleh panas; Namun, sebagai tindakan pencegahan, National Association of State Public Health Veterinarians menganjurkan tidak mengkonsumsi daging dan susu dari hewan terkena rabies.

Sumber Penyakit
Risiko utama dari rabies berasal dari kontak dengan sumber virus, air liur, cairan tubuh, atau jaringan hewan yang terinfeksi.

Siklus Epidemiologi
Rabies terpelihara dalam dua siklus epidemiologi, yaitu siklus rabies urban /perkotaan dan siklus rabies sylvatic. Dalam Siklus Urban, anjing adalah inang reservoir utama. Siklus ini dominan di wilayah Afrika, Asia, dan Amerika Tengah dan Selatan di mana proporsi anjing tanpa divaksinasi dan semi-hak milik (anjing dilepas /liar tapi ada pemiliknya) atau anjing liar. Seperti ini telah hampir hilang di Amerika Utara dan Eropa; meskipun kasus sporadis terjadi pada anjing terinfeksi oleh binatang liar, siklus perkotaan tidak terkekalkan pada populasi anjing.

Siklus Sylvatic (atau satwa liar) siklus adalah siklus utama di Eropa dan Amerika Utara. Namun ini juga hadir bersamaan dengan siklus perkotaan di beberapa bagian dunia. Epidemiologi dari siklus ini adalah kompleks; faktor yang mempengaruhi itu termasuk strain virus, perilaku spesies inang, ekologi dan faktor lingkungan. Dalam ekosistem manapun, sering satu dan kadang-kadang sampai 3 spesies satwa liar bertanggung jawab akan terlanggengkanya strain tertentu rabies. Penyakit patternin satwa liar dapat menjadi relatif stabil, atau terjadi sebagai epidemi yang bergerak lambat. Contoh terbaru dari epidemi termasuk epidemi rabies rubah yang bergerak perlahan ke barat di Eropa, dan epidemi rabies raccoon yang bergerak ke utara di sepanjang pantai timur Amerika Serikat dan ke Kanada.

ETIOLOGI
Klasifikasi Agen Penyebab Penyakit
Termasuk golongan virus RNA (ssRNA, beramplop), Ordo: Mononegavirales, Familia: Rhabdoviridae, Genus: Lyssavirus, Spesies: Rabies.

Ketahanan Terhadap Tantangan Fisik Dan Kimia
1. Suhu: Virus ini rentan terhadap radiasi ultraviolet atau panas pada 50 ° C selama 1 jam.
2. pH: Tidak aktif (in aktif) pada pH rendah.
3. Desinfektan: Virus rabies dapat menjadi in aktif oleh pelarut lipid (larutan sabun, eter, kloroform, aseton), 1% sodium hipoklorit, 2% glutaraldehid, 45-75% etanol, yodium, senyawa amonium kuaterner, formaldehida.
4. Ketahanan hidup: Virus dengan cepat tidak aktif di bawah sinar matahari dan tidak bertahan untuk waktu yang lama di lingkungan kecuali di daerah dingin gelap.

DIAGNOSA
Penyakit ini dapat diduga berdasarkan gejala klinis, namun uji laboratorium diperlukan untuk mengkonfirmasi diagnosis. Sampel yang diambil dari hewan mati harus dikirim ke laboratorium yang kompeten untuk diagnosis

Masa inkubasi
Masa inkubasi bervariasi tergantung dengan jumlah virus menular, strain virus, tempat inokulasi (gigitan lebih dekat ke kepala memiliki masa inkubasi yang lebih pendek), imunitas hewan dan sifat luka. Pada anjing dan kucing, masa inkubasi adalah 10 hari sampai 6 bulan; kebanyakan kasus menjadi jelas antara 2 minggu dan 3 bulan. Pada sapi, masa inkubasi dari 25 hari sampai lebih dari 5 bulan telah dilaporkan karena kelelawar vampir penular rabies.

Gejala
Gejala klinis: Tanda-tanda klinis rabies jarang definitif. Hewan terinfeksi rabies dari semua spesies biasanya menunjukkan tanda-tanda khas dari gangguan CNS, dengan sedikit variasi antara spesies. Tanda-tanda yang paling dapat diandalkan, terlepas dari spesies apa, adalah perubahan perilaku yang menyolok dan kelumpuhan progresif takterjelaskan. Perubahan perilaku dapat mencakup anoreksia mendadak, tanda-tanda ketakutan atau kegelisahan, lekas marah, dan hyperexcitability (termasuk priapism). Hewan mungkin mencari kesunyian /menyendiri. Ataksia, suara berubah, dan perubahan temperamen yang jelas, takut air (hydrophobia), takut sinar (fotophobia). Agresivitas yang tidak berkarakter barangkali berkembang /hewan jinak biasanya dapat tiba-tiba menjadi ganas. Umumnya, hewan liar rabies mungkin kehilangan rasa takut terhadap manusia, dan spesies yang nokturnal (hewan malam) dapat terlihat mengembara di siang hari.

Gejala klinis dapat dibagi menjadi 3 fase umum: prodromal, eksitasi akut, dan paralisa. Namun ini adalah nilai praktis terbatas karena variabilitas gejala dan lama fase yang tidak teratur. Selama periode prodromal, yang berlangsung 1-3 hari, hewan menunjukkan tanda-tanda samar samar yang tidak spesifik, yang kemudian dengan cepat meregang. Penyakit tersebut berkembang dengan cepat setelah timbul kelumpuhan, dan kematian dipastikan terjadi beberapa hari sesudahnya. Beberapa hewan mati dengan cepat tanpa tanda-tanda klinis yang menciri.

Adanya Istilah “furious rabies” mengacu pada hewan di mana agresi (fase saraf eksitasi akut) terlihat. “Dumb or paralytic rabies” mengacu pada hewan di mana perubahan perilaku yang minimal, dan penyakit ini terutama terwujud sebagai kelumpuhan.

Rabies Bentuk Furious:
Furious rabies adalah bentuk klasik "sindrom anjing gila", meskipun dapat terlihat pada semua spesies. Selama tahap ini tidak ada kelumpuhan, binatang menjadi pemarah, dengan sedikit provokasi, seringkali menyerang dengan agresif dan kejam menggunakan gigi, kuku, tanduk, atau kuku. Postur dan ekspresi merupakan satu tanda dari kewaspadaan dan kecemasan, dengan pupil melebar. Kebisingan /kegaduhan dapat mengundang serangan. Hewan seperti kehilangan kendali /hati-hati, takut pada manusia dan hewan lainnya. Karnivora dengan bentuk rabies ini sering berkeliaran kemana mana, menyerang hewan lain, termasuk manusia, dan obyek /benda bergerak. Mereka biasanya menelan benda asing, misalnya kotoran, jerami, tongkat, dan batu. Anjing rabies dapat menggigit gigit kawat dan kerangka kandang mereka, mematahkan gigi mereka sendiri, dan akan mengikuti bergerak tangan orang di depan kandang mereka mencoba untuk digigit. Anak anjing biasanya mencari persahabatan dengan orang dan terlalu lucu, tapi menggigit ketika orang membelainya, biasanya menjadi kejam dalam beberapa jam. Sigung Rabies dapat mencari dan menyerang bayi anjing atau anak kucing. Kucing jinak maupun bobcats (kucing liar amerika utara) rabies dapat menyerang tiba-tiba, menggigit dan mencakar dengan kejam. Kemudian penyakit berkembang, umumnya kemudian terjadi inkoordinasi otot dan kejang. Hasilnya adalah terjadi kematian dari kelumpuhan yang progresif.

Rabies Bentuk Paralytic:
Paralitic rabies gejalanya terlihat seperti ataksia dan kelumpuhan otot-otot tenggorokan dan masseter, sering disertai air liur yang berlimpah dan ketidak mampuan untuk menelan, juga rahang bawah menggantung (jatuh) adalah umum pada anjing. Apabila pemilik sering memeriksa mulut anjing dan mencari benda asing atau memasukkan obat dengan tangan mereka (tanpa sarung tangan karet), inilah yang membuka kemungkinan untuk terpapar rabies. Hewan-hewan ini mungkin tidak ganas dan jarang mencoba untuk menggigit. Kelumpuhan tersebut berkembang dengan cepat ke seluruh bagian tubuh, koma dan dalam beberapa jam kemudian terjadi kematian.

Variasi Spesies:
Sapi dengan furious rabies bisa berbahaya, menyerang dan mengejar manusia dan hewan lainnya. Laktasi berhenti tiba-tiba pada sapi perah. Ekspresi tenang yang biasa digantikan oleh salah satu kewaspadaan. Mata dan telinga mengikuti suara dan gerakan. Tanda klinis karakteristik yang umum adalah lenguhan (suara sapi) yang abnormal, yang sebentar-sebentar melenguh terus menerus sampai sesaat sebelum kematiannya.

Kuda rabies dan keledai rabies sering menunjukkan keadaan stres dan gejolak yang ekstrim. Tanda-tanda ini, terutama jika disertai dengan berguling guling, dapat ditafsirkan sebagai terkena kolik. Seperti pada spesies lain, kuda mungkin menggigit atau menendang dengan kejam, karena ukuran dan kekuatan mereka, menjadi tidak terkendali dalam beberapa jam. Ada beberapa orang telah terbunuh langsung oleh hewan tersebut. Hewan ini sering kali melukai diri sendiri.

Rubah rabies dan coyote rabies sering menyerang kebun sayur atau bahkan rumah-rumah, menyerang anjing dan orang-orang. Salah satu perilaku abnormal yang dapat terjadi ditunjukkan oleh rubah yang menyerang landak, terdapatnya duri landak pada rubah, dalam banyak kasus, mendukung diagnosis terhadap rabies.

Rakun rabies dan sigung rabies biasanya tidak menunjukkan rasa takut pada manusia, ataksia, sering agresif, dan aktif di siang hari, meskipun secara alami mereka binatang malam (nokturnal). Di daerah perkotaan, mereka dapat menyerang hewan kesayangan.

Tikus dan lagomorpha jarang terpapar resiko virus rabies. Namun, setiap kejadian harus dievaluasi secara individual. Secara umum, rabies harus dicurigai pada satwa liar yang hidup di darat yang berperilaku tidak normal. Hal yang sama juga harus dicurigai pada kelelawar yang terlihat terbang di siang hari, beristirahat di tanah, lumpuh dan tidak bisa terbang, menyerang orang atau hewan lain, atau berkelahi.

lesi
Lesi Post-Mortem: Tidak ada lesi nyata yang karakteristik. Perut mungkin berisi berbagai material yang abnormal, seperti tongkat dan batu. Tanda-tanda histologis khas ditemukan dalam sistem saraf pusat, yang multifokal, ringan, polioencephalomyelitis dan  craniospinal ganglionitis dengan infiltrasi mononuklear pada perivaskular, glial terjadi proliferasi yang bersifat difus, perubahan regresif dalam sel-sel saraf, dan nodula glial. Negri body dapat dilihat pada beberapa tapi tidak semua kasus rabies.

Diagnosa Banding
Hewan dengan perubahan perilaku dan berbagai tanda-tanda neurologis harus selalu dicurigai sebagai rabies. Namun penyakit lain, berbagai masah lain, atau racun dapat menyebabkan tanda-tanda neurologis yang sama seperti layaknya rabies. Berikut ini adalah beberapa diagnosis banding yang memiliki tanda-tanda klinis yang mirip dengan rabies.

Sapi, domba, kambing:
1. Keracunan timbal /timah (Pb); 2. Grass tetany; 3. Defisiensi vitamin A; 4. Polioencephalomalacia; 5. Listeriosis

Kuda:
1. East, West, Venezuela equine encephalitis; 2. West Nile virus; 3. equine protozoal myeloencephalitis; 4. Trauma.

Babi:
1. Pseudorabies; 2. Porcine respiratory encephalitis syndrome; 3. Tetanus; 4. Nipah virus

Anjing, kucing:
1. Toxoplasmosis; 2. Infeksi pada syaraf pusat (CNS); 3. Feline infectious peritonitis; 4. Canine distemper; 5. Neoplasia; 6. Trauma; 7. Hepatic encephalopathy; 8. Deficiency thiamine (kucing); 9. Benda asing di dalam mulut dan pharyng; 10. Keracunan; 11. Spongiform encephalopathy (kucing)

Diagnosa Laboratorium
Sampel:
Otak, air liur, kelenjar ludah, kulit (folikel rambut wajah) dan ulasan impresi kornea.

Identifikasi Agen Penyakit:
Pada hewan, virus rabies biasanya diidentifikasi memakai immunofluorescence dengan sampel otak yang diambil pada saat nekropsi. Virus ini mungkin juga akan ditemukan dalam jaringan lain seperti kelenjar ludah, kulit (folikel rambut wajah) dan ulasan impresi kornea, tapi deteksinya kurang efisien. Immunofluorescence dapat mengidentifikasi 98-100% kasus yang disebabkan oleh semua genotipe dari rabies dan virus-rabies terkait, dan yang paling efektif pada sampel segar. Tes-tes lain untuk mendeteksi virus termasuk imunohistokimia dan uji enzyme-linked immunosorbent assays (ELISA). RT-PCR ini juga bisa digunakan, terutama ketika sampelnya sedikit (misalnya air liur) atau ketika banyak sampel harus di uji pada saat wabah atau ketika survei epidemiologi. Histologi untuk mendeteksi agregat material virus pada neuron (Negri body) tidak spesifik, dan tidak dianjurkan jika teknik yang lebih spesifik yang tersedia.

Sebuah uji tunggal dengan hasil negatif tidak bisa dipakai untuk menyatakan tidak ada infeksi, oleh karena itu, isolasi virus dalam kultur sel (neuroblastoma tikus atau sel ginjal hamster bayi) sering dilakukan bersamaan. Tikus yang di inokulasi juga dapat digunakan dalam beberapa keadaan. Identifikasi varian strain dilakukan di laboratorium khusus dengan antibodi monoklonal, pemeriksaan asam nuklead tertentu, atau RT-PCR diikuti oleh sekuensing DNA.

Tes /Uji Serologi:
Uji serologi kadang-kadang digunakan untuk menguji serokonversi pada hewan peliharaan sebelum perjalanan internasional atau dalam kampanye vaksinasi satwa liar. Uji ini jarang dipakai untuk diagnosis kasus klinis, hospes biasanya mati sebelum terbentuk antibodi. Tes serologis termasuk virus neutralization tests dan ELISA. Dalam uji ada beberapa reaksi silang antara virus rabies dan virus terkait rabies.

PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN
Sanitasi
Rabies merupakan salah satu penyakit tertua yang dikenal manusia dan manusia telah memerangi selama berabad-abad. Di banyak bagian dunia, bagaimnapun juga terutama di negara-negara berkembang, keberhasilan dalam mengendalikan penyakit akan tetap terbatas. Pencegahan dengan (Sanitary prophylaxis) rabies terkendala karena dua faktor: Kesulitan membatasi atau menghilangkan (eliminasi) semua binatang penular, dan perlawanan (oposisi) publik yang terus berkembang atas penggunaan tindakan (eliminasi) tersebut.

Medis
Pengobatan:
Tidak ada pengobatan setelah gejala klinis muncul. Beberapa penelitian telah dipublikasikan pada protokol vaksinasi pasca pajanan untuk hewan, dan prosedur ini sering dianjurkan karena mereka dapat meningkatkan paparan pada manusia. Di USA, pengobatan pasca pajanan hewan yang belum divalidasi tidak dianjurkan. Pengobatan pasca pajanan ternak dan hewan kesayangan, menggunakan vaksin komersial berlisensi untuk tujuan ini, dipraktekkan di beberapa negara Asia.

Vaksinasi:
Rabies dapat dicegah pada hewan peliharaan dengan vaksinasi dan dengan menghindari kontak dengan binatang liar rabies. Vaksin rabies yang tersedia adalah untuk anjing, kucing, musang, sapi, domba dan kuda. Vaksin inactivated and modified live kedua efektif, namun terdapat kasus yang jarang terjadi setelah vaksinasi rabies telah dilaporkan dengan vaksin hidup yang dimodifikasi pada anjing dan kucing. Vaksin belum divalidasi pada kelinci atau hewan pengerat, meskipun vaaksin terdapat ekstralabel dapat digunakan di kebun binatang atau dalam fasilitas lain di mana hewan berada banyak kontak dengan manunisia. Hewan liar dapat diimunisasi dengan vaksin oral yang bisa didistribusikan melalui umpan. Di negara-negara dengan populasi anjing liar yang banyak, vaksin serupa mungkin berguna. Vaksin rabies konvensional tidak tampak melindungi hewan terhadap virus terkait rabies dalam phylogroup II (virus Mokola dan virus Lagos bat), virus ini telah menyebabkan penyakit yang fatal pada hewan yang divaksinasi. Beberapa proteksi silang tampaknya eksis dengan virus terkait rabies dalam phylogroup I.

Mencegah hewan berkeliaran akan mengurangi risiko terkena rabies hewan liar. Untuk melindungi hewan peliharaan kelinci dan rodensia, mereka harus ditempatkan di dalam ruangan, dan diawasi dengan ketat jika mereka diizinkan luar untuk exercise /olah raga. Kelinci yang disimpan di luar harus ditempatkan di tempat yang tinggi, kandang kelinci berdinding ganda yang tidak dengan  lantai kawat. Sebisa mungkin, hewan peliharaan harus dijaga dari kontak dengan satwa liar, terutama yang berperilaku tidak wajar. Kelelawar yang tertangkap oleh kucing harus dilakukan pengujian terhadap rabies.

Untuk mencegah penularan rabies ke manusia atau hewan lain (dan juga untuk mencegah penanganan yang tidak perlu pada orang yang telah terkena), hewan yang tidak divaksinasi yang telah terkena harus di eutanasia dan diuji. Atau sebagai alternatif, mereka dapat ditempatkan dalam tempat isolasi yang ketat selama 6 bulan, dengan vaksinasi anjing, kucing dan musang baik pada saat masuk ke dalam isolasi atau 1 bulan sebelum rilis. Ternak, kelinci dan hewan lainnya diisolasi tetapi tidak harus divaksinasi. Hewan yang divaksinasi, divaksinasi ulang dan dibatasi dengan dilakukan pengamatan selama setidaknya 45 hari. Hewan yang divaksinasi namun telah kadaluarsa (lama) dievaluasi berdasarkan kasus-per-kasus. Anjing, kucing atau musang tanpa gejala yang telah menggigit manusia (yang tidak memiliki riwayat paparan rabies) harus diamati selama 10 hari, jika hewan kemudian menunjukkan tanda-tanda rabies pada saat itu, lakukan eutanasia dan uji terhadap rabies. Negara-negara bebas dari virus rabies mungkin memerlukan masa karantina yang lama sebelum hewan dapat diimpor.

Orang yang dalam keseharian berisiko tinggi terpapar rabies, seperti dokter hewan, pekerja laboratorium, petugas pemelihara hewan, petugas atau anak kandang dan petugas satwa liar harus dipertimbangkan untuk mendapat pencegahan sebelum terjadi paparan (preexposure) dengan imunisasi (vaksinasi) aktif dengan vaksin kultur sel (cell culture vaccine). Imunisasi biasanya terdiri dari 3 dosis vaksin. Antibodi dapat ditunjukkan dalam sera hampir 100% dari mereka yang divaksinasi jika digunakan vaksin kultur sel diploid (diploid cell culture vaccine). Dosis Booster harus diberikan (ditawarkan) kepada orang-orang dalam risiko yang berkelanjutan setiap satu sampai tiga tahun. Pengobatan lokal terhadap luka harus selalu dilakukan pada orang-orang terkena (gigitan) walaupun orang divaksinasi sebelumnya.

Tindakan pencegahan dan kontrol di negara-negara di mana penyakit ini endemik, langkah-langkah yang diterapkan untuk mengatasi dan mengurangi risiko infeksi pada populasi rentan (satwa liar, hewan liar peliharaan dan hewan peliharaan) dan membuat penyangga antara hewan sumber penyakit dan manusia meliputi:
1. Pengawasan (surveillance) dan pelaporan kasus dugaan rabies pada hewan.
2. Program vaksinasi untuk hewan peliharaan.
3. Penelitian dinamika penyakit, vaksin dan mekanisme pemberiaan (Vaksin) yang efektif bagi populasi sasaran.
4. Program pengendalian rabies pada hewan liar termasuk vaksinasi (jebakan /vaksinasi /pelepasan atau pengedaran /pemberian vaksin oral)
5. Kontrol populasi dan program vaksinasi untuk populasi hewan liar.

***Penulis: drh. Giyono Trisnadi – dari berbagai sumber.


English Version
RABIES

Rabies or Penyakit Anjing Gila is a very serious viral infection that targets the brain and nervous system . Rabies is an acute, progressive viral encephalomyelitis that principally affects carnivores and bats, although it can affect any mammal. The disease is fatal, once clinical signs appear.
Rabies is a zoonotic disease (a disease that is transmitted to humans from animals) that is caused by a virus. The disease affects domestic and wild animals, and is spread to people through close contact with infectious material, usually saliva, via bites or scratches. *Rabies is present on all continents with the exception of Antartica, but more than 95% of human deaths occur in Asia and Africa. Once symptoms of the disease develop, rabies is nearly always fatal.
Rabies is a neglected disease of poor and vulnerable populations whose deaths are rarely reported. It occurs mainly in remote rural communities where measures to prevent dog to human transmission have not been implemented. Under-reporting of rabies also prevents mobilization of resources from the international community for the elimination of human dog-mediated rabies.
Key facts (WHO 2014), 1. Rabies occurs in more than 150 countries and territories; 2. More than 55 000 people die of rabies every year mostly in Asia and Africa; 3. 40% of people who are bitten by suspect rabid animals are children under 15 years of age; 4. Dogs are the source of the vast majority of human rabies deaths; 5. Wound cleansing and immunization within a few hours after contact with a suspect rabid animal can prevent the onset of rabies and death; 6. Every year, more than 15 million people worldwide receive a post-exposure vaccination to prevent the disease– this is estimated to prevent hundreds of thousands of rabies deaths annually.

EPIDEMIOLOGY
Occurence
With some exceptions (particularly islands), the rabies virus is found worldwide. Some countries including the United Kingdom, Ireland, Sweden, Norway, Iceland, Japan, Australia, New Zealand, Singapore, most of Malaysia, Papua New Guinea, the Pacific Islands and some islands in Indonesia have been free of the classical rabies RABS_H2009 © 2009 CFSPH  virus for many years.
Last occurrence of Rabies in the World (oie): Armenia January 2011, Australia 1867, Austria 2003 (domestic animal) and 2002 (wild animal), Belgium 2008 (domestic) and 1998 (wild), Belize December 2012 (domestic) and February 2007 (wild), Bulgaria 21 September 2010 (domestic) and July 2012, Czech Republic 2001 (domestic) and 1 April 2002 (wiled), Denmark April 2002 (domestic) and May 2009 (wild), Egypt 1990, Estonia March 2008 (domestic) and June 2011 (wild), Finland November 2007 (domestic) and August 2009 (wild), France August 2011 (domestic) and august 2012 (wild), French Guiana 2003 (domestic) and October 2009 (wild), Germany March 2005 and March 2006, Hong Kong 1987, Hungary February 2010 (domestic) and December 2012 (wild), Ireland 1903, Italy December  2010 (domestic) and June 2011, Japan 1956, Kazakhstan 2007, Kuwait 1994, Latvia June 2012 (domestic) and November 2010 (wild), Libya June 2010, Liechtenstein 1986, Malaysia 1999, Malta 1911, Mauritius 1894, Montenegro March 2012 (domestic) and November 2011, Norway 18 November 2011, (domestic) and January 2012 (wild), Palestinian Auton. Territories 25 March 2010, Portugal 1984 (domestic) 1961 (wild), Qatar 2009, Singapore 1953, Sweden 1886 (domestic) and 11 March 2010 (wild), Switzerland 2003 (domestic) and September 2002 (wild), United Arab Emirates 1999, United Kingdom 1970.
Last occurrence report of Rabies in the World, demonstrated clinical disease: Chile January - June 2013, Netherlands July - December 2013, Serbia January - June 2013, Slovenia January - June 2013, Afghanistan January - June 2013, Algeria July - December 2013, Angola July - December 2012, Azerbaijan January - June 2013, Bangladesh January - June 2013, Belarus July - December 2012, Benin January - June 2013, Bhutan July - December 2013, Bolivia Jul - December 2012, Bosnia and Herzegovina July - December 2013, Botswana January - June 2013, Brazil January - June 2013, Burkina Faso January - June 2013, Burundi July - December 2010, Canada January - June 2013, Central African Republic January - June 2013, Chad July - December 2012, Colombia January - June 2013, Congo (Dem. Rep. of the) July - December 2013, Costa Rica January - June 2013, Cote D'Ivoire Jan - Jun, 2013, Croatia January - June 2013, Cuba July - December 2012, Dominican Republic January - June 2013, Ecuador January - June 2013, El Salvador July - December 2012, Eritrea January - June 2013, Ethiopia January - June 2013, Former Yug. Rep. of Macedonia July - December 2013, Gabon July - December 2011, Georgia July - December 2013, Ghana January - June 2013, Grenada July - December 2010, Guatemala July - December 2012, Haiti January - June 2013, Indonesia Januari - June 2013, Iran January - June 2013, Iraq January - June 2013, Israel January - June 2013, Jordan July - December, 2012, Kenya July - December 2013, Korea (Rep. of) January - June 2013, Laos July - December 2012, Lesotho July - December 2013, Madagascar July - December 2012, Malawi July - December 2012, Mauritania January - June 2013, Moldova January - June 2013,           Mongolia January - June 2013, Morocco January - June 2013, Mozambique July - December 2013, Myanmar July - December 2012, Namibia January - June 2013, Nepal January - June 2013, Nicaragua January - June 2013, Nigeria January - June 2013, Oman July - December 2012, Panama July - December 2012, Philippines July - December 2012, Poland January - June 2013, Romania July - December 2013, Russia January - June 2013, Rwanda July - December 2012, Saudi Arabia January - June 2013, Senegal January - June 2013, Serbia and Montenegro July - December 2006, Sierra Leone July - December 2013, Somalia January - June 2012, South Africa January - June 2013, Sri Lanka January - June 2013, Swaziland July - December 2013, Syria January - June 2013, Tajikistan January - June 2013, Tanzania July - December 2012, Thailand January - June 2013, Togo July – December 2013, Trinidad and Tobago January - June 2013, Tunisia July - December 2013, Turkey January - June 2013, Turkmenistan July - December 2010, Uganda July - December 2012, Ukraine January - June 2013, United States of America January - June 2013, Uzbekistan January - June 2008, Venezuela Jul - Dec, 2011, Yemen July - December 2012, Zambia January - June 2013, Zimbabwe July - December 2012, China (People's Rep. of) July - December 2012, Guyana July - December 2012, Honduras July - December 2012, India January - June 2013, Peru January - June 2013, Vietnam July - December 2013.
Last occurrence report of Rabies in the Wolrd (oie), to certain zone(s) / region(s) of the country: Albania July - December 2012, Argentina January - June 2013, Chinese Taipei January  - June 2013, Kyrgyzstan January - June 2013, Lithuania January - June 2013, Mexico January - June 2013, Pakistan
January - June 2013, Paraguay January - June 2013, Slovakia January - June 2013, Spain January - June 2013, Sudan January - June 2013.                              

Hosts
All mammals are susceptible to rabies. There are many strains of the rabies virus; each strain is maintained in particular reservoir host(s). Important maintenance hosts include members of the Canidae (dogs, jackals, coyotes, wolves, foxes and raccoon dogs), Mustelidae (skunks, martens, weasels and stoats), Viverridae (mongooses and meerkats), and Procyonidae (raccoons), and the order Chiroptera (bats). Cat-adapted rabies variants have not been seen, although cats are often infected with rabies viruses from other hosts, and they can readily transmit the virus.
The important reservoir hosts vary with the area. In North America, maintenance hosts for rabies virus include insectivorous bats, striped skunks (Mephitis mephitis), raccoons (Procyon lotor) coyotes (Canis latrans) and various species of foxes. Red foxes (Vulpes vulpes), insectivorous bats, wolves and raccoon dogs (Nyctereutes procyonoides) appear to be important hosts in Europe. The canine rabies variant is well controlled in the U.S., Canada and Europe, and it may no longer be circulating or circulates only at low levels in some areas. However, this virus has apparently become established in some wildlife populations, such as gray foxes (Urocyon cinereoargenteus) in Texas and Arizona, and it could be re-established in dogs from these reservoirs.
Canine rabies continues to be a significant problem in areas of Africa, Asia, the Middle East, and Latin America. Wildlife hosts may also be present. Both insectivorous and vampire bats are hosts for rabies virus in Mexico, Central and South America. Vampire bats (Desmodus rotundus ) are sometimes responsible for outbreaks among cattle in South America. Rabies has also been reported in various other wildlife species, including wolves, coyotes, skunks and foxes, in Central and South America. Red foxes and golden jackals (Canis aureus) are often involved in wildlife rabies in the Middle East. Red and arctic foxes, raccoon dogs, mongooses and jackals are hosts for the virus in parts of Asia. Mongooses are also important in the Caribbean. In Africa, there is evidence that the virus may be maintained in jackals, foxes, mongooses, genets and other species.

Transmission
The rabies virus is readily transmitted between mammals, whether they are the same or different species. This virus is usually spread in the saliva, when an infected animal bites another. Less often, an animal or person is infected by contact with infectious saliva or neurological tissues, through mucous membranes or breaks in the skin. The rabies virus is not transmitted through intact skin.
There are also rare reports of transmission by other routes. A few cases have been reported after transplantation of organs, particularly corneas but also pancreas, kidneys and liver. Aerosol transmission has been documented in special circumstances, such as in laboratories and bat caves with an unusually high density of aerosolized, viable virus particles. Rabies viruses have been transmitted by ingestion in experimentally infected animals, and there is anecdotal evidence of transmission in milk to a lamb and a human infant. (More conventional routes of spread could not be ruled out in the latter case). There is some speculation that ingestion could play a role in rabies transmission among wild animals. One epizootic among kudu may have spread between animals when they fed on thorn trees. There are no records of human disease acquired by this route. Nevertheless, in 2 incidents investigated by the U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDC), people who drank unpasteurized milk from rabid cows were given post-exposure prophylaxis. Pasteurized milk and cooked meat are not expected to pose a risk of infection, as the rabies virus is inactivated by heat; however, as a precaution, the National Association of State Public Health Veterinarians recommends against consuming tissues and milk from rabid animals.

Sources of agent
The major risk of rabies comes from contact with the saliva, body fluids, or tissue of infected animals .

Epidemiological cycles
Rabies is maintained in two epidemiological cycles, one urban and one sylvatic. In the urban rabies cycle, dogs are the main reservoir host. This cycle predominates in areas of Africa, Asia, and Central and South America where the proportion of unvaccinated and semi-owned or stray dogs is high. It has been virtually eliminated in North America and Europe; although sporadic cases occur in dogs infected by wild animals, the urban cycle is not perpetuated in the canine population.
The sylvatic (or wildlife) cycle is the predominant cycle in Europe and North America. It is also present simultaneously with the urban cycle in some parts of the world. The epidemiology of this cycle is complex; factors affecting it include the virus strain, the behavior of the host species, ecology and environmental factors. In any ecosystem, often one and occasionally up to 3 wildlife species are responsible for perpetuating a particular strain of rabies. The disease patternin wildlife can either be relatively stable, or occur as a slow moving epidemic. Recent examples of epidemics include a fox rabies epidemic that moved slowly west in Europe, and araccoon rabies epidemic that moved north along the east coast of the U.S. and into Canada.

AETIOLOGY
Classification Of The Causative Agent
The rabies is RNA (the virus are enveloped and have a single-stranded RNA genome with negative sense) virus, order: Mononegavirales, familly: Rhabdoviridae, genus: Lyssavirus, species: rabies.

Resistance To Physical And Chemical Action
1. Temperature: This virus is susceptible to ultraviolet radiation or heat of 1 hour at 50°C.
2. pH: in active in low pH
3. Disinfectants: The rabies virus can be inactivated by lipid solvents (soap solutions, ether, chloroform, acetone), 1% sodium hypochlorite, 2% glutaraldehyde, 45-75% ethanol, iodine preparations, quaternary ammonium compounds, formaldehyde.
 4. Survival: It is rapidly inactivated in sunlight and does not survive for long periods in the environment except in a cool dark area.

DIAGNOSIS
The disease may be suspected based on clinical signs, however, laboratory tests are required to confirm the diagnosis. Samples taken from dead animals must be sent to competent laboratories for diagnosis.

Incubation Period
The incubation period varies with the amount of virus transmitted, virus strain, site of inoculation (bites closer to the head have a shorter incubation period), host immunity and nature of the wound. In dogs and cats, the incubation period is 10 days to 6 months; most cases become apparent between 2 weeks and 3 months. In cattle, an incubation period from 25 days to more than 5 months has been reported in vampire bat-transmitted rabies.

Signs
Clinical signs: Clinical signs of rabies are rarely definitive. Rabid animals of all species usually exhibit typical signs of CNS disturbance, with minor variations among species. The most reliable signs, regardless of species, are acute behavioral changes and unexplained progressive paralysis. Behavioral changes may include sudden anorexia, signs of apprehension or nervousness, irritability, and hyperexcitability (including priapism). The animal may seek solitude. Ataxia, altered phonation, and changes in temperament are apparent. Uncharacteristic aggressiveness may develop—a normally docile animal may suddenly become vicious. Commonly, rabid wild animals may lose their fear of humans, and species that are normally nocturnal may be seen wandering about during the daytime.
The clinical course may be divided into 3 general phases—prodromal, acute excitative, and paralytic/endstage. However, this division is of limited practical value because of the variability of signs and the irregular lengths of the phases. During the prodromal period, which lasts 13 days, animals show only vague nonspecific signs, which intensify rapidly. The disease progresses rapidly after the onset of paralysis, and death is virtually certain a few days thereafter. Some animals die rapidly without marked clinical signs.
The term “furious rabies” refers to animals in which aggression (the acute neural excitative phase) is pronounced. “Dumb or paralytic rabies” refers to animals in which the behavioral changes are minimal, and the disease is manifest principally by paralysis.
Furious Form:
This is the classic “mad-dog syndrome,” although it may be seen in all species. There is rarely evidence of paralysis during this stage. The animal becomes irritable and, with the slightest provocation, may viciously and aggressively use its teeth, claws, horns, or hooves. The posture and expression is one of alertness and anxiety, with pupils dilated. Noise may invite attack. Such animals lose caution and fear of humans and other animals. Carnivores with this form of rabies frequently roam extensively, attacking other animals, including people, and any moving object. They commonly swallow foreign objects, eg, feces, straw, sticks, and stones. Rabid dogs may chew the wire and frame of their cages, breaking their teeth, and will follow a hand moved in front of the cage, attempting to bite. Young pups can seek human companionship and are overly playful, but bite even when petted, usually becoming vicious in a few hours. Rabid skunks may seek out and attack litters of puppies or kittens. Rabid domestic cats and bobcats can attack suddenly, biting and scratching viciously. As the disease progresses, muscular incoordination and seizures are common. Death results from progressive paralysis.
Paralytic Form:
This is manifest by ataxia and paralysis of the throat and masseter muscles, often with profuse salivation and the inability to swallow. Dropping of the lower jaw is common in dogs. Owners frequently examine the mouth of dogs and livestock searching for a foreign body or administer medication with their bare hands, thereby exposing themselves to rabies. These animals may not be vicious and rarely attempt to bite. The paralysis progresses rapidly to all parts of the body, and coma and death follow in a few hours.
Species Variations:
Cattle with furious rabies can be dangerous, attacking and pursuing humans and other animals. Lactation ceases abruptly in dairy cattle. The usual placid expression is replaced by one of alertness. The eyes and ears follow sounds and movement. A common clinical sign is a characteristic abnormal bellowing, which may continue intermittently until shortly before death.
Horses and mules frequently show evidence of distress and extreme agitation. These signs, especially when accompanied by rolling, may be interpreted as evidence of colic. As in other species, horses may bite or strike viciously and, because of their size and strength, become unmanageable in a few hours. People have been killed outright by such animals. These animals frequently have self-inflicted wounds.
Rabid foxes and coyotes often invade yards or even houses, attacking dogs and people. One abnormal behavior that can occur is demonstrated by the fox that attacks a porcupine; finding a fox with porcupine quills can, in many cases, support a diagnosis of rabies.
Rabid raccoons and skunks typically show no fear of humans and are ataxic, frequently aggressive, and active during the day, despite their often crepuscular nature. In urban areas, they may attack domestic pets.
In general, rabies should be suspected in terrestrial wildlife acting abnormally. The same is true of bats that can be seen flying in the daytime, resting on the ground, paralyzed and unable to fly, attacking people or other animals, or fighting.
Rodents and lagomorphs rarely constitute a risk for rabies virus exposure. However, each incident should be evaluated individually. Reports of laboratory-confirmed rabies in woodchucks are not uncommon in association with the raccoon rabies epizootic in the eastern USA.

Lesions
Post-Mortem Lesions: There are no characteristic gross lesions. The stomach may contain various abnormal objects, such as sticks and stones. The typical histological signs, found in the central nervous system, are multifocal, mild, polioencephalo-myelitis and craniospinal ganglionitis with mononuclear perivascular infiltrates, diffuse glial proliferation, regressive changes in neuronal cells, and glial nodules. Negri bodies can be seen in some but not all cases.

Differential Diagnosis
Animals with changes in behaviour and various neurological signs should always be suspected of being rabid.  However, other diseases, problem, or toxins can cause similar neurological signs as rabies.  The following are some differential diagnosis' that have clinical signs similar to rabies.
Cattle, Sheep:
1. Lead poisoning; 2. Grass tetany; 3. vitamin A deficiency; 4. Polioencephalomalacia; 5. Listeriosis
Horses:
1. East, West, Venezuela equine encephalitis; 2. West Nile virus; 3. equine protozoal myeloencephalitis; 4. Trauma.
Pigs:
1. Pseudorabies; 2. Porcine respiratory encephalitis syndrome; 3. Tetanus; 4. Nipah virus
Dog, Cat:
1. Toxoplasmosis; 2. CNS infection; 3. Feline infectious peritonitis; 4. Canine distemper; 5. Neoplasia; 6. Trauma; 7. Hepatic encephalopathy; 8. Thiamine deficiency (cats); 9. Oral and pharyngeal foreign bodies; 10. Poisoning; 11. Spongiform encephalopathy (cats).

Laboratory Diagnosis
Samples:
Brain, saliva, salivary gland, skin (tactile facial hair follicles) and corneal impression smears.
Identification Test Of The Agent:
In animals, the rabies virus is usually identified by immunofluorescence in a brain sample taken at necropsy. The virus might also be found in other tissues such as the salivary gland, skin (tactile facial hair follicles) and corneal impression smears, but detection is less efficient. Immunofluorescence can identify 98-100% of cases caused by all genotypes of the rabies and rabies-related viruses, and is most effective on fresh samples. Other tests to detect the virus include immunohistochemistry and enzyme-linked immunosorbent assays (ELISAs). RT-PCR is also useful, particularly when the sample is small (e.g., saliva) or when large numbers of samples must betested in an outbreak or epidemiological survey. Histology to detect aggregates of viral material in neurons (Negri bodies) is nonspecific, and it is not recommended if more specific techniques are available.
A single negative test does not rule out infection; therefore, virus isolation in cell culture (mouse neuroblastoma or baby hamster kidney cells) is often done concurrently. Mouse inoculation may also be used in some circumstances. Identification of variant strains is performed in specialized laboratories with monoclonal antibodies, specific nuclei c acid probes, or RT-PCR followed by DNA sequencing (oie).
Serological Tests:
Serology is occasionally used to test seroconversion in domesticated animals before international travel or in wildlife vaccination campaigns. It is rarely useful for the diagnosis of clinical cases, as the host usually dies before developing antibodies. Serological tests include virus neutralization tests and ELISAs. There is some cross-reactivity between the rabies virus and rabies-related viruses (oie).

PREVENTION AND CONTROL
Sanitary Prophylaxis
Rabies is one of the oldest known diseases and man has been combatting it for many centuries. In many parts of the world, however, especially in the developing countries, success in controlling the disease will remain limited. Sanitary prophylaxis of rabies has reached its limit due to two factors: the difficulty of confining or eliminating all the vector animals, and the growing public opposition to the use of such measures.

Medical Prophylaxis
Treatment:
There is no treatment once the clinical signs appear. Few studies have been published on post-exposure vaccination protocols for animals, and these procedures are often considered to be inadvisable because they may increase human exposure. In the U.S., post-exposure prophylaxis of animals has not been validated and is not recommended. Post-exposure prophylaxis of livestock and pets, using commercial vaccines licensed for this purpose, is practiced in some Asian countries including India (oie)

Prevention:
Rabies can be prevented in domesticated animals by vaccination and by the avoidance of contact with rabid wild animals. Rabies vaccines are available for dogs, cats, ferrets, cattle, sheep and horses. Both inactivated and modified live vaccines are effective, but rare cases of post-vaccinal rabies have been reported with the modified live vaccines in dogs and cats. Vaccines have not been validated in rabbits or rodents, although they might be used extralabel in petting zoos or other facilities where animals are in contact with many people. Wild animals can be immunized with oral vaccines distributed in bait. In countries with large stray dog populations, similar vaccines may be useful. Conventional rabies vaccines do not seem to protect animals against rabies-related viruses in phylogroup II (Mokola virus and Lagos bat virus); these viruses have caused fatal disease in vaccinated animals. Some cross-protection seems to exist with rabies-related viruses in phylogroup I.
Preventing animals from roaming will reduce the risk of exposure to rabid wild animals. To protect pet rabbits and rodents, they should be housed indoors, and watched closely if they are allowed outside to exercise. Rabbits kept outside should be kept in an elevated, double-walled hutch that does not have exposed wire mesh floors. As much as possible, domesticated animals should be kept from contact with wildlife, especially those that behave unusually. Bats caught by cats should be submitted for rabies testing.
To prevent the transmission of rabies to humans or other animals (as well as to prevent unnecessary prophylaxis in people who have been exposed), unvaccinated animals that have been exposed should be euthanized and tested. Alternatively, they may be placed in strict isolation for 6 months, with vaccination of dogs, cats and ferrets either upon entry into isolation or 1 month before release. Livestock, rabbits and other animals are isolated but not necessarily vaccinated. Vaccinated animals are revaccinated and confined under observation for at least 45 days. Animals with expired vaccinations are evaluated on a case-by-case basis. Asymptomatic dogs, cats or ferrets that have bitten humans (with no history of exposure to rabies) are currently observed for 10 days; if the animal develops signs of rabies during this time, it is euthanized and tested for rabies. Countries free of the rabies virus may require a prolonged quarantine period before animals can be imported.
Persons who are regularly at high risk of exposure, such as vets, laboratory workers, animal handlers and wildlife officers should be considered for preexposure prophylaxis by active immunization with the cell culture vaccine. Immunization normally consists of 3 doses of vaccine. Antibody can be demonstrated in the sera of virtually 100% of those vaccinated if the diploid cell culture vaccine is used. Booster doses should be offered to persons at continuing risk every one to three years. Local treatment of wounds should always be carried out in exposed persons who have been vaccinated previously.

Prevention and control measures In countries where the disease is endemic, measures are implemented to address and reduce the risk of infection in susceptible populations (wildlife, stray and domestic animals) and create a buffer between the animal source of the disease and humans.
1. Surveillance and reporting of suspected cases of rabies in animals
2. Vaccination programs for domestic animals
3. Research into disease dynamics, vaccines and effective delivery mechanisms for target populations
4. Wildlife rabies control programs including vaccination (trap/vaccinate/release or delivery of oral vaccines)
5. Population control and vaccination programs for stray animal populations.

*** By: Giyono Trisnadi, DVM., with many Refferences.

PENTING UNTUK PETERNAKAN: